foto-foto itu…

beberapa foto yang janggal yang saya ambil waktu acara larung setelah acara ruwatan selesai, lokasi di sungai opak disekitar daerah prambanan, keadaan waktu itu sangat gelap gulita kami hanya memakai penerangan lampu senter, dengan kamera digital biasa akhirnya saya tangkap gambar-gambar itu.





Ruwatan, meruwat dan diruwat

dua hari yang lalu diadakan ruwatan sengkolo dirumah yang katanya menolak bala atau sengkolo.

Dalam tradisi Jawa, ruwatan adalah prosesi spiritual untuk membuang kesialan hidup orang-orang yang sedang dalam sukerta (susah) Orang-orang sukerta ini, menurut cerita  adalah orang-orang yang akan dimangsa oleh Batara Kala.


Untuk keluar dari sukerta seseorang harus diruwat.Dalam upacara ini seorang dalang melakukan penyiraman air suci dan penguntingan rambut kepada peserta ruwat dan kemudian dilarung ke laut.

Dalang , yang kemudian menggantikan kisah wayang kulit mengenai asal mula dijadikannya bocah sukerta sebagai mangsa Batara Kala ini, bukan sembarang dalang dan harus mempunyai kemampuan khusus.

Prosesi sakral ini berlangsung sangat khidmat dari proses penyiapan ubarampe lengkap seperti Kelir atau layar kain , Blencong atau lampu dari minyak juga sesajian lengkap berupa:
Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda),
jajan pasar, bunga 7 warna, mata air 7 sumber. hio (dupa), lampu minyak ayam ingkung (ayam kampung utuh) lengkap dengan tumpeng,, Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb. Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam.
Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.
Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).

Dalang ruwat menggunakan pakaian jawa lengkap dan yang diruwat menggunakan kain batik yang dikemben ( dikenakan sebatas dada). tidak lupa yang tidak ikut ruwat harus mengenakan ‘tali’ yang disebut tali ‘lawe’  karena katanya untuk menolak imbas dari sukerto tadi yang diikat dilengan kanan Tiba saat nya dalang ruwat membacakan doa-doa dan menjelaskan maksud dari sesaji dan tujuannya, ruwatan diakhiri dengan gunting rambut siraman dan pemecahan bejana dan kendi sebagai simbol hilangnya kesialan serta melarung ke laut.



Hello world!

Welcome to our new blog. inilah kata-kata yang ingin kusampaikan kedatanganku di dunia blogger ini, mungkin g sekedar ikut-ikutan, mencoba belajar menulis menyampaikan suatu hal dsb.




info lowongan BUMN CPNS dan lowongan kerja lainnya